KRISIS PANGAN

KRISIS PANGAN, KRISIS YANG SEBENARNYA !

Di tengah kekhawatiran akan habisnya sumber minyak, Energy Information Administration, U.S. Department of Energy meramalkan akan tetap menguatnya konsumsi energi dunia sebesar 57% dan 24 % dari tahun 2004 – 2030, masing masing untuk Negara non-OECD dan Negara OECD. Perbedaan itu disebabkan oleh tingginya target pertumbuhan ekonomi Negara non OECD yang berkisar 6% dan hanya 2.5 % untuk OECD. Diantara negara OECD Amerika serikat mengkonsumsi 21 juta barel sehari, dan saat ini China baru mengkonsumsi 1/3 nya. Apabila China dan India menyamai konsumsi Amerika, maka diprediksi permintaan minyak dunia akan mencapai 200 juta barel sehari. Besarnya permintaan dan menurunnya supply dari sebagian negara penghasil minyak dapat digunakan sebagai indikasi bahwa harga minyak dunia akan masih tetap tidak menentu dan berpeluang tetap tinggi. Bahkan menurut Presiden Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Chakib Khelil, harga minyak diprediksi akan mencapai angka 200 USD/barrel.

Produksi minyak Amerika Serikat terus mengalami penurunan sejak tahun 1973. Terhitung dari tahun 1986, kebutuhan minyak Amerika tergantung dari import. Saat ini Amerika Serikat berusaha keras untuk mengatasi ketergantungannya dengan meningkatkan produksi biofuel. George Bush telah mentargetkan produksi biofuel sebesar 35 milyar gallon pada tahun 2017. Volume sebesar ini akan memerlukan seluruh hasil panen biji-bijian/grain (jagung & kedelai) di Amerika Serkat. Uni Eropa pada tahun 2020, mentargetkan 10% pemakaian energi untuk industri dan transportasi harus berasal dari biofuel, bahkan China dan India mempunyai target lebih besar, masing masing mematok 15% & 20% untuk tahun yang sama.

Alasan mengurangi ketergantungan akan minyak bumi dan menangkap peluang pasar banyak negara mulai memproduksi biofuel. Malaysia dengan dukungan areal perkebunan kelapa sawit lebih dari 4 juta ha, berambisi menjadi exporter biofuel terbesar di dunia. Lereno Sdn Bhd biodiesel, sebuah pabrik patungan yang didukung 30% dana oleh investor dari Australia dan Italia, telah membangun pabrik biofuel dengan kapasitas 60,000 ton per tahun. Sedangkan Singapore, menggaet investasi Finlandia (NESTE) sebesar 550 juta Euro, telah mulai membangun pabrik biofuel terbesar di dunia, berbahan baku minyak kalapa sawit dengan kapasitas produksi 20 000 barrel/hari yang akan selesai pada tahun 2010.

Gerakan melepaskan diri dari krisis energi di banyak negara ternyata memicu krisis baruyang lebih mengerikan, yaitu krisis pangan. Ini terjadi karena pasokan sereal ke pasar internasional jauh berkurang yang mendorong kenaikan harga. Harga pangan terus melambung, terutama beras, gandum dan jagung dan telah memicu berbagai kerusuhan di belahan dunia. Krisis ini dirasakan lebih parah di 33 negara yang gagal panen, yaitu 21 negara di Afrika (Lesotho, Somalia, Swaziland, Zimbabwe, Eritrea, Liberia, Mauritania, Sierra Leone, Burundi, Central African Republic , Chad, Congo, Congo, Côte d’Ivoire, Ethiopia, Ghana, Guinea, Guinea-Bissau, Kenya, Sudan, & Uganda), 10 negara Asia (Iraq, Afghanistan, Korea, Bangladesh, China, Nepal, Sri Lanka, Tajikistan, Timor-Leste, Viet Nam), 5 negara di Amerika Latin (Bolivia, Dominican Rep, Ecuador, Haiti & Nicaragua & 1 di Eropa (Moldova), karena berbagai sebab diantaranya kekeringan, banjir, bencana alam dan kerusuhan sosial/perang (Food Prospect & Food Situation-FAO, 2008 ).

Walaupun demikian, krisis pangan saat ini masih tertolong dengan melimpahnya pasokan pangan (grain) dari negara produsen, sehingga tidak terjadi kelangkaan. Tercatat produksi pangan dunia terus naik, pada tahun 2006 sebesar 2012 juta ton, tahun 2007 sebesar 2108 juta ton dan diprediksikan pada tahun 2008 naik menjadi 2164 juta ton, atau naik sebesar 2.6% dari tahun sebelumnya. Pertanyaan yang mengganjal adalah, sampai kapan stok pangan bisa menopang kebutuhan dunia yang terus meningkat ? Kekhawatiran itu muncul karena faktanya stok pangan (sereal) dunia menurun menjadi 405 juta ton atau turun sebesar 21 juta ton seperti yg dilaporkan FAO. Stok sebesar itu merupakan stok terendah selama 25 tahun pengamatan. Pada level ini rasio antara stok dan konsumsi sereal menjadi 18.8%, atau turun 6 % dari tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena permintaan dalam negeri yang besar dan tingginya biaya untuk import sehingga banyak negara mengalami kesulitan menambah stok pangan serealnya

Ditambah dengan faktor ketidakpastian produksi pangan karena perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut, kekhawatiran tersebut menjadi semakin relevan. Perubahan iklim akan berpotensi untuk semakin menurunkan produksi dan produktivitas pertanian. Hal yang paling ditakutkan adalah bahwa pada suatu saat negara produsen demi menjamin ketahanan pangan masing masing, akan mengurangi atau menghentikan eksport serta menambah stok dalam negeri. Akibatnya adalah ketersediaan pangan dunia terganggu sehingga akan memicu kelangkaan pangan. Apabila ini terjadi (semoga tidak) uang menjadi tidak berarti karena barang yang akan dibeli tidak ada di pasar. Sehingga uang 80 miliar dolar sebagai cadangan kalau terjadi krisis ekonomi, yang dihimpun 10 negara Asean, Korea Selatan, Jepang dan China menjadi kurang berarti.

Mensiasati kemungkinan terburuk tersebut, maka cara yang terbaik adalah kembali ke kemandirian pangan suatu negara. Nampaknya perhatian pemerintah ke arah ini masih sangat kecil. Pekerjaan rumah ke arah tujuan mulia itu masih banyak. Reformasi agraria masih jalan di tempat, konversi lahan produktif masih terus berlangsung karena implementasi tataruang yang kedodoran, upaya menetapkan lahan sawah abadi belum terlaksana, insentif untuk pertanian masih sangat terbatas, harga sarana dan prasaran produksi pertanian masih sangat mahal, bahkan sistem perbankan kita belum sepenuhnhya menopang usaha pertanian.

Ajakan soledaritas pemerintah hendaknya dimaknai lebih dalam tidak sekedar berbagi rejeki, namun juga bisa diartikan membuka ruang, peluang dan akses sebesar besarnya bagi petani, mayoritas penduduk Indonesia, untuk dapat bekerja secara optimal. Semoga ! (PUBLISHED in  INVESTOR DAILY, 2008)

Comments are closed.