Archive for November, 2012

Istilah terkait REDD+

Dalam literatur terkait REDD+ (Reduction Emission from Deforestation & Forest Degradation +) banyak sekali istilah yang asing, dan relatif baru.  Berikut dipetik beberapa istilah dari buku draft “Strategi dan Rencana Implementasi Pengukuran, Pematauan, dan Pelaporan yang terverifikasi (MRV) (sumber: Satgas REDD+: http://www.satgasreddplus.org/)

Aksi-aksi Mitigasi yang Tepat pada Level Nasional/Nationally Appropriate Mitigation Actions (NAMAs)

Himpunan tindakan atau kebijakan yang dilakukan sebuah negara untuk memenuhi komitmen pengurangan emisi Gas Rumah Kaca, yang sesuai dengan kondisi negara yang bersangkutan.  Copenhagen Climate Conference (Desember 2009) menggunakan NAMAs khusus untuk negara Non-Annex I dan tidak menegaskan bagaimana bentuk tindakan tersebut.

Bahan organik tanah (soil organic matter)

Karbon organik dalam tanah mineral dengan kedalaman tertentu yang diterapkan secara konsisten sepanjang waktu, termasuk bagian akar yang halus (hidup ataupun mati) dan bahan organik mati berukuran diameter minimum 2 mm. Kedalaman tanah umumnya 30 cm.

Biomassa di atas tanah (aboveground biomass)

Biomassa yang tersimpan dalam vegetasi/tumbuhan, baik tumbuhan berkayu maupun tumbuhan bawah/herba di atas tanah, termasuk tunggak, batang, cabang, ranting, kulit, daun, bunga dan buah.  Biomassa tumbuhan bawah dapat diabaikan apabila kontribusinya terhadap total biomassa di atas tanah sangat kecil.

Biomassa di bawah tanah (belowground biomass)

Biomassa yang tersimpan di bagian akar tumbuhan yang hidup.  Bagian akar yang halus berdiameter kurang dari 2 mm dapat diabaikan karena sering tidak dapat dipisahkan dari bahan organik tanah atau serasah.

Carbon pool

Suatu sistem yang mempunyai mekanisme untuk mengakumulasi atau melepaskan karbon.  Ekosistem hutan memiliki lima carbon pools utama, yaitu biomassa di atas tanah, biomassa di bawah tanah, kayu mati, serasah, dan bahan organik tanah.

Data aktifitas (activity data)

Data tentang besaran aktifitas manusia yang menghasilkan emisi atau menyerap emisi.  Dalam konteks REDD+, data aktifitas ini biasanya mengacu pada luas lahan dalam sebuah sistem manajemen.

Deforestasi (deforestation)

Perubahan lahan hutan menjadi tidak berhutan akibat kegiatan manusia.

Degradasi hutan (forest degradation)

Penurunan stok karbon di areal-areal yang masih berupa hutan yang disebabkan oleh campur tangan manusia yang dapat diukur dalam kurun waktu tertentu (RECOFTC, 2009).

Emisi Gas Rumah Kaca (GHG emission)

Pelepasan gas-gas ke atmosfer pada area tertentu dalam jangka waktu tertentu yang bertanggung jawab sebagai penyebab pemanasan global dan perubahan iklim. Gas-gas rumah kaca (GRK) tersebut adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (N2O),  hydrofluorocarbons (HFCs), perfluorocarbons (PFCts) dan sulphur hexafluoride (SF6).  Emisi dari GRK ini umumnya dinyatakan dalam bentuk setara CO2 (carbon dioxide equivalent= CO2e).

Faktor emisi (emission factor)

Sebuah nilai yang mengkuantifikasikan pelepasan atau penyerapan Gas Rumah Kaca per satuan luas.

Faktor serapan (removal factor)

Sebuah nilai yang mengkuantifikasikan penyerapan karbon dari udara oleh sistem terestris dan disimpan dalam lima carbon pools.

Gas Rumah Kaca (Green House Gas/GHG)

Gas yang terkandung dalam atmosfer, baik alami maupun antropogenik, yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah.

Kebocoran (leakage)

Fenomena yang terjadi ketika pengurangan emisi di suatu area implementasi REDD+ menyebabkan meningkatnya emisi di wilayah lain.

Kerangka Pengaman (safeguards)

Kriteria dan indikator yang tercakup di dalam kebijakan nasional untuk memastikan bahwa pelaksanaan REDD+ tidak menyimpang dari tujuan awalnya, terkait tata kelola program dan akuntabilitas finansial, dampak pada hubungan dan posisi sosial bagi kelompok masyarakat rentan, dan dampak terhadap lingkungan hidup.

Ketidakpastian (uncertainty)

Kelemahan dan/ kekurangan pengetahuan (lack of knowledge) tentang nilai sebenarnya sebuah variabel atau kombinasi beberapa variabel, yang nilainya dinyatakan dalam bentuk selang kepercayaan dengan tingkat kepercayaan 95%.

Konservasi stok karbon hutan (forest carbon stock conservation)

Tindakan-tindakan untuk menjaga dan melindungi hutan dengan tujuan agar stok karbon didalamnya tidak berkurang melalui tindakan-tindakan yang bersifat melindungi dan konservasi.

Manfaat ikutan (Co-benefit)

Manfaat dari skema REDD+ (selain pengurangan emisi GRK), seperti pengentasan kemiskinan, menjaga lingkungan, meningkatkan keanekaragaman hayati, meningkatkan tata kepemerintahan hutan dan melindungi hak asasi manusia.

Pelaksana REDD+ (REDD+ proponent)

Lembaga/organisasi yang memenuhi aturan dan syarat tertentu untuk menjalankan dan mendaftarkan program/proyek/kegiatan REDD+ yang dilaksanakannya kepada Lembaga REDD+ Nasional melalui rekomendasi dari lembaga REDD+ di tingkat Sub Nasional.  Pelaksana dapat berupa badan usaha, organisasi masyarakat sipil, lembaga pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat.  Persyaratan pendaftaran program proyek/kegiatan dan pelaksananya dikembangkan di daerah dengan prinsip-prinsip yang ditentukan oleh Lembaga REDD+ Nasional serta sejalan dengan aturan-aturan dan kearifan di daerah (Satgas REDD+, 2012)

Pelaporan (Reporting)

Salah satu kegiatan dalam MRV berupa penyampaian hasil-hasil inventarisasi Gas Rumah Kaca dari berbagai sektor pada suatu wilayah (Nasional, Provinsi, Kabupaten atau kegiatan demonstrasi REDD+ di tapak) yang bersifat menyeluruh, konsisten dan transparan.

Pemantauan (Monitoring)

Proses mengamati atau memeriksa dengan cermat sebuah variabel yang pernah diukur dan dibandingkan dengan hasil pengukuran awal.

Pengukuran (Measurement)

Mengkuantifikasikan atau memberi nilai sebuah variabel melalui perbandingan dengan sebuah satuan baku (misalnya sentimeter, kilogram, dan/ hektar).

Peningkatan stok karbon hutan (Forest carbon stock enhancement)

Berbagai upaya untuk memperbesar jumlah karbon berupa tumbuhan dan pepohonan hutan melalui upaya penanaman dan usaha lainnya agar pertambahan biomassanya meningkat, misalnya pemupukan, pembukaan tajuk, dll.

Reduksi  Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan dan Lahan Gambut yang Melindungi Keanekaragaman Hayati dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat / REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation and the role of conservation, sustainable management of forests and enhancement of forest carbon stocks in developing countries)

REDD+ adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, dan memasukkan upaya-upaya konservasi karbon hutan, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, dan peningkatan stok karbon hutan.  REDD+ dapat dilakukan melalui pendekatan dan tindakan yang beragam, tetapi ide intinya adalah untuk menciptakan mekanisme berbasis prestasi yang memberi imbalan kepada proyek atau Negara yang menghasilkan pengurangan emisi.

Serapan karbon (Carbon sequestration)

Proses biokimia pengikatan karbon di atmosfer oleh mahluk hidup, termasuk vegetasi dan mikro organisme tanah.

Stok karbon (carbon stock)

Jumlah karbon yang ada dalam carbon pool pada waktu tertentu.

Tingkat Emisi Rujukan (Reference Emission Level)

Jumlah emisi (kotor) yang diestimasi pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, jika tidak ada aktifitas REDD+.  Istilah ini muncul dalam REDD+, dimana tingkat emisi dihitung hanya dari emisi yang dilepaskan.

Tingkat Rujukan (Reference Level)

Jumlah emisi (kotor/bersih) dan penyerapan yang diestimasi. pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, seandainya tidak ada aktifitas REDD+.  Istilah Tingkat Rujukan (Reference Level) muncul dalam REDD+ dimana tingkat emisi diperoleh dari selisih emisi yang dilepaskan dengan emisi yang diserap.  Tingkat rujukan digunakan sebagai alat pemantau kecenderungan emisi.  Ketika kecenderungan menunjukkan emisi yang meningkat, dengan kata lain peluang mencapai target penurunan emisi mengecil, maka aktifitas penurunan emisi yang sedang berjalan perlu dikoreksi, demikian pula sebaliknya.

Verifikasi (Verification)

Proses kaji ulang  terhadap laporan hasil kegiatan REDD+ yang dilakukan oleh lembaga independen secara transparan untuk memeriksa dan menilai apakah laporan hasil kegiatan REDD+ didokumentasikan dengan baik dan untuk memastikan kelengkapan, akurasi, keterbukaan (transparency), konsistensi dan komparabilitas dari metode dan data yang dilaporkan sudah sesuai dan konsisten merujuk pada standar yang ada dalam panduan UNFCCC.

Lecture on GIS/RS,& Risk Reduction

Lecture on GIS, Remote Sensing Analysis, & Disaster Risk Reduction Services by Dr.Takahashi Hiroshi,

Venue             :  RS. Silva, Fahutan

Day/Time      :  26 Nov. 2012, 10.30 am.

Every body is welcome !

Contact Person :

Lilik Budi Prasetyo
Forest Resources Conservation Department
Forestry Faculty
Bogor Agricultural University
email : lbpras@indo.net.id
lbprastdp@yahoo.com
http ://lbprastdp.staff.ipb.ac.id

Habitat of Javan Leopard (Panthera pardus melas Cuvier 1809) in Pine Plantation Forest Landscape.

H.Gunawan, L.B.Prasetyo, A. Mardiastuti, A.P.Kartono

Javan leopard naturally distributes in Java Island, Kangean Island, Nusakambangan Island & Sempu Island. The Javan leopard lives in varying habitat due to their tolerance to various climate & prey. In Central Java, the leopards occupy teak forest, pine forest,mixed plantation forest, lowland natural  forest as well as mountain natural forest. The research focus on characteristic of pine plantation for Javan Leopards habitat.  Detailed description of the paper can be downloaded here.

Corresponding Author : Hendra Gunawan (hendragunawan1964@yahoo.com)

 

Kondisi Daerah Aliran Sungai di P.Sumatra semakin buruk !

Kejadian longsor di Bohorok pada tahun 2003 (Tempo), seperti terbayang ketika terjadi lagi banjir bandang di Pasaman beberapa waktu yang lalu (Kompas). Beriringan dengan kejadian itu terjadi banjir di Tapsel, Aceh dll.  Hujan ekstrim selalu menjadi kambing hitam kejadian tersebut, tapi kalau kita introspeksi,…. sejujurnya harus kita akui memang kondisi Daerah Alira Sungai (DAS) di P. Sumatra bertambah buruk.

Total DAS di Sumatra ada 964 buah (Data Badan Planologi), dari jumlah tersebut sebagian besar mempunyai tutupan hutan kurang dari 30%.  Bahkan cukup banyak yang di bawah 10%, termasuk DAS di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Lampung dan Bangka-Belitung. Perbandingan kondisi tutupan hutan pada periode tahun 2000 dan 2009, menujukkan DAS P. Sumatra menjadi semakin buruk.

Bila pembangunan dilakukan dengan mengabaikan lingkungan, maka bangsa ini hanya akan memanen bencana berkelanjutan. Pada kondisi perubahan lingkungan global yang penuh dengan ketidakpastian (uncertainty) yang tinggi, seyogyanya dipikirkan bagaimana memperbaiki lingkungan, sehingga dampak cuaca ektrim dapat diminimalkan.

 

 

Deforestasi P.Sumatra

Setelah P. Jawa, maka P. Sumatra merupakan pulau dengan tekanan perubahan lahan yang tinggi. Sejak pendudukan Belanda, konversi hutan menjadi perkebunan telah berlangsung di sini. Dilanjutkan dengan era eksploitasi hutan melalui HPH sejak UU penanaman modal dalam negeri dan asing pada sekitar tahun  1970an (Prasetyo & Minoru, 1995). Berlanjut dengan era reformasi yang dikuti dengan periode otonomi daerah, konversi hutan (deforestasi) terus berlangsung. Deforestasi terjadi di semua fungsi hutan, bahkan kawasan konservasi pun tidak luput dari proses deforestasi ini (Prasetyo et al.2008).

Pada periode 2000 – 2009 (9 tahun) terjadi deforestasi kurang lebih 2 juta hektar, atau 230 ribu hektar per tahun.

Pada grafik pie di atas, hutan pada tahun 2000, 86% masih tetap hutan, 7.23% menjadi belukar (ini mungkin lahan bera pada pola pertanian berpindah) dan 1.8 % untuk perkebunan (Sawit & karet).

Kalau perubahan itu terjadi secara linier (ceteris paribus), maka bisa diramalkan berapa tahun lagi hutan tropis P.Sumatra akan ada ?  Apakah bisa diprediksi ? Kalau proses  tidak terjadi linier faktor apa yang akan mempengaruhinya ? Apakah akan sama dengan Jawa, sampai lowland forest habis baru deforestasi akan berhenti ? Apakah harus menunggu itu karena konsekuensinya akan sangat mahai… kepunahan species dan…. bencana alam !

 

Kapan Lembaga REDD+ & MRV diketok palu ?

Perdebatan Pro Kontra REDD+ diantara rimbawan Indonesia masih terus beralangsung.  Pada satu sisi Rimbawan Indonesia menganggap REDD+ adalah bentuk “pendiktean”  terhadap Indonesia, di sisi lain ada yang beranggapan REDD+ adalah momentum untuk memperbaiki kehutanan Indonesia.  Saya salah satu yang mendukung pendapat kedua,selama REDD+ tidak hanya ditujukan untuk “karbon” tetapi untuk perbaikan kehutanan Indonesia.

Ada beberapa alasan saya berpendapat demikian:

  1. REDD+  membutuhkan perbaikan kapasitas SDM
  2. REDD+ membutuhkan data spasial yang standard dan system pengelolaan  yang handal.
  3. REDD+  membutuhkan data kehutanan (potensi tegakan) yang valid.
  4. REDD+  membutuhkan informasi berbagai peta (tutupan hutan, lahan gambut, peta kawasan hutan, HGU dll) yang valid.
  5. REDD+ membutuhkan dukungan data penginderaan jauh kontinyu
  6. Dll

Satu per satu nampaknya kondisi diatas sedang diperbaiki.  Diantaranya adalah (a) Kementrian Kehutanan telah memperbaiki NFI, (b) inisiasi one map (walaupun baru satu propinsi), (c) one licence : Lapan berperan sebagai lembaga yang mempunyai kewenangan untuk pembelian data citra satelit, dan lembaga lain akan dapat memperoleh secara gratis !, untuk itu LAPAN telah meng_upgradi fasilitas receivernya. (d) PIPIB, dll

Satu hal yang ditunggu adalah pendirian LEMBAGA REDD, dan LEMBAGA MRV.  Tanpa ada lembaga tersebut mustahil REDD+ bisa berjalan !